Ditengah adanya aksi boikot wisata ke bali, kebijakan pembatasan kegiatan outing class atau study tour sekolah dasar dan menengah di Kabupaten Sukoharjo yang hanya diperbolehkan di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memunculkan kembali perbincangan. Yaitu mengenai pilihan destinasi wisata domestik dan pemerataan ekonomi pariwisata di Indonesia.
Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sukoharjo mengarahkan agar kegiatan perjalanan edukasi sekolah dibatasi di wilayah Jawa Tengah dan DIY. Kebijakan tersebut disampaikan dalam pembahasan Rapat Paripurna Raperda APBD Perubahan 2026, dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan diminta melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaannya.
Pembatasan ini merespons maraknya kegiatan perjalanan sekolah ke luar Pulau Jawa, termasuk Bali. Pihak sekolah, kepala sekolah, komite sekolah, maupun instansi pendidikan diharapkan tidak lagi mengusulkan perjalanan di luar wilayah yang telah ditentukan.
Kebijakan tersebut dapat dipandang sebagai upaya mengarahkan belanja perjalanan pendidikan agar lebih dekat. Sekaligus membuka peluang bagi destinasi wisata lokal untuk memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan rombongan pelajar.
Namun pembatasan ini juga mengundang pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kebebasan memilih tujuan wisata edukasi, kesempatan siswa mengenal keragaman daerah. Serta pelaku usaha pariwisata yang selama ini mengandalkan kunjungan rombongan sekolah.
Ditengah Polemik Wisatawan Domestik dan Seruan Boikot ke Bali
Di sisi lain Bali juga menjadi sorotan setelah pernyataan kontroversial anggota DPD RI, Arya Wedakarna atau AWK, terkait etika wisatawan domestik. Polemik tersebut berkaitan dengan kritik terhadap perilaku sebagian wisatawan lokal. Seperti menawar harga terlalu rendah, minim memberikan tip, serta munculnya dugaan perlakuan berbeda antara wisatawan domestik dan mancanegara.
Isu tersebut kemudian memunculkan perbincangan lebih luas mengenai posisi wisatawan lokal dalam industri pariwisata Bali saat ini. Padahal wisatawan domestik merupakan salah satu segmen pasar penting bagi keberlangsungan hotel, restoran, transportasi, destinasi wisata di Bali.
Hal ini pun memunculkan aksi dimana boikot wisata Bali digaungkan oleh banyak pihak. Wisata Bali sendiri memiliki persoalan internal yang pelik, salah satunya UMR di Bali yang tidak mampu dinaikan walau sektor wisata terus dpacu.
