Presiden keenam RI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, MA atau dikenal dengan inisial SBY merupakan presiden yang pertama kali dipilih langsung oleh rakyat. Ia juga Presiden tersukses sepanjang sejarah RI, karena berdasarkan data capaian SBY semasa Presiden belumlah tertandingi.
Setelah sukses mengawal transisi politik dan ekonomi pada tahun 2004-2009. SBY terpilih lagi dalam satu putaran pada Pemilu 2009 dengan perolehan suara mencapai 60,80% atau ekuivalen dengan 73,8 juta pemilih.
Capaian Prestasi ini menempatkan SBY sebagai “The Most Voted Leader in the World” dalam sebuah pemilu yang demokratis. Ia bahkan mengalahkan Barack Obama, George Bush, Lula da Silva, Ronald Reagan, Vladimir Putin dan lain-lain. Tidak hanya menjadi pemimpin paling legitimate di dunia dengan dukungan suara terbanyak.
Mantan Kasospol ABRI itu juga membuktikan bahwa demokrasi di negara berkembang yang dianggap penuh kegaduhan dan instabilitas, ternyata dapat menghasilkan pemerintahan efektif dan kesejahteraan rakyat. Di tangan SBY, Indonesia 2004-2014 mencatat kemajuan pesat di sejumlah bidang, mulai dari pertahanan keamanan, luar negeri dan ekonomi.
Kemajuan nyata selama era SBY dapat dilihat dari cadangan devisa kita yang mencapai rekor tertinggi sepanjang republik berdiri pada Agustus 2011, yaitu sebesar US $ 124,5 miliar. Ini tentu pencapaian yang luar biasa bila dibandingkan dengan cadangan devisa tahun 2004 yang baru sekitar US $ 36,3 miliar. Lalu dalam rasio utang, terjadi penurunan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Rasio utang pemerintah yang pernah mencapai 88% PDB pada 2000, dapat diturunkan menjadi 32% PDB pada 2008.
Bidang pembangunan ia mampu membangun jembatan Suramadu, menambah Jalan tol seperti contohnya jalan tol Semarang- Bawen, membuat jalan lingkar Ambarawa dan pembangunan lainnya. Uniknya hal ini dilakukan tanpa mengurangi Subsidi dan tanpa meningkatkan pajak.
Melunasi Utang IMF, Penguatan Pemberantasan Korupsi dan Masuknya RI ke G20
Konsistensi Presiden SBY dalam pengurangan beban pengeluaran pemerintah untuk membayar utang juga terlihat jelas. Pada 2006 SBY berhasil mengantarkan bangsa ini melunasi seluruh utang ke International Monetary Fund (IMF) sebesar Rp60,7 triliun.
Setahun setelahnya ia mengambil keputusan penting kala membubarkan Consultative Group of Indonesia (CGI) yang sebelumnya mendikte arah pembangunan bangsa. Presiden SBY berhasil juga mengahkiri sangsi dan embargo militer yang telah berlangsung selama 12 tahun akhirnya dicabut.
Bahkan SBY sanggup membeli alutista terbesar ke 2 sepanjang sejarah RI setelah Era Soekarno. Serta menjalin ToT kapal Selam dengan Korea Selatan, dan Tank bersama Turki agar bisa mandiri dalam alutista.
Sejalan dengan data-data di atas, kita patut bersyukur karena ekonomi kita mampu bertahan di tengah badai krisis dunia 2008. Hampir semua kawasan di dunia pada saat itu mengalami pertumbuhan minus, termasuk AS dan Eropa. Tapi Indonesia masih berhasil mempertahankan pertumbuhan hingga 4,3% pada 2009.
- Baca Juga : Segitiga Emas Pariwisata Kabupaten Semarang
Dibidang pemberantasan Korupsi SBY melakukan penguatan besar besaran, yang paling mencolok ialah KPK yang semakin kokoh. Bahkan pada kasus yang menimpa sang besan dan Hambalang SBY tak pandang bulu meski taruhannya ialah citranya sendiri.
Dengan semua itu daya tahan ekonomi RI kuat dan turut mengangkat peringkat investasi kita ke level yang lebih baik. Tercatat JCRA, Fitch, Moody’s, Standard & Poor’s dan dan Rating and Investment Information Inc (R&I) menaikkan level Indonesia hingga mencapai label “Investment Grade”, setelah lama Indonesia tak meraihnya.
Impact-nya pada 2012 Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia masuk negara G20. PDB Indonesia 2013 telah melampaui US $ 870 miliar, jauh di atas angka PDB di awal pemerintahan SBY pada tahun 2004 yang sebesar US $ 257 miliar. Sampai akhirnya 2014, Bank Dunia menempatkan Indonesia di peringkat 10 negara dengan PDB terbesar di dunia, berdasarkan kemampuan daya belinya (Purchasing Power Parity).
