Satgas PKH “satuan tugas penertiban kawasan hutan” memulai pengusutan dugaan perusakan hutan yang menyebabkan terjadinya bencana banjir dan longsor di beberapa wilayah di Sumatera. Pengusutan itu sudah mulai dilakukan di tiga provinsi terjadinya bencana, yakni di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Menurut Kepala Pusat Penerangan Kejaksaan Agung Anang Supriatna, di samping memberikan bantuan. Tim Satgas PKH juga sudah bergerak mendatangi beberapa lokasi yang diduga adanya perbuatan-perbuatan yang merusak lingkungan hidup sehingga rusaknya ekosistem.
Anang menyebut, penyelidikan yang dilakukan termasuk mendalami dugaan adanya proyek tambang di hutan. Satgas PKH turut terlibat dalam penyelidikan terkait dengan temuan kayu gelondongan di tengah-tengah banjir Sumatera. Kayu-kayu itu diketahui terseret arus banjir bandang dari daerah hulu ke hilir sungai-sungai di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
- Baca Juga : Kong Java Resto Ambarawa Sajikan Nuansa Pedesaan
Sebelumnya video gelondongan kayu yang terbawa arus banjir sebelumnya beredar di media sosial. Dalam video yang direkam di Sumatera Utara pada akhir November lalu, banjir bandang tampak membawa batang-batang pohon dari hulu. Selain di Sumatera Utara, gelondongan kayu tampak berserakan pascabanjir di Sumatera Barat.
Tudingan dari Aktivis Lingkungan
Aktivis lingkungan menuding bencana ini tidak sekadar bencana alam murni, melainkan bencana ekologis akibat aktivitas manusia. Khususnya banjir yang menimpa wilayah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan yang mana banyak gelondongan kayu besar terseret banjir.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara dalam pernyataannya menyebut tujuh perusahaan, termasuk PT Toba Pulp Lestari, diduga menjadi penyebab kerusakan ekologis di Ekosistem Batang Toru dan kawasan sekitarnya. Menurut Walhi, deforestasi masif membuat banjir dan longsor semakin parah, terutama di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Walhi menilai bencana tidak semata disebabkan cuaca ekstrem, tetapi dipicu kerusakan tutupan hutan.
Disisi lain manajemen PT Toba Pulp Lestari membantah tuduhan soal aktivitas perusahaan yang disebut sebagai penyebab bencana banjir bandang. Melalui Corporate Secretary Toba Pulp Lestasi Anwar Lawden mengklaim perusahaan tidak memiliki keterkaitan dengan penyebab bencana tersebut.
