Kasus tewasnya seorang pria terduga pelaku pencuri ayam usai dikeroyok massa di Kabupaten Tabanan, Bali, memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan publik. Salah satunya, mengapa masyarakat bertindak lebih keras terhadap pencuri “kecil”, tetapi diam terhadap para penjahat besar koruptor.
Ini karena pelaku kejahatan ringan seperti pencuri motor, ayam, dan sebagainya berinteraksi langsung dengan masyarakat. Sehingga tak jarang mudah menjadi sasaran kemarahan massa. Disisi lain pencuri kecil juga lemah tidak punya struktur maupun backing yang mampu memberi perlindungan dan efek gentar.
Misal kasus terbaru di Bali, dari kacamata kriminologi kasus tewasnya terduga pencuri ayam berinisial KD akibat amuk massa di Baturiti, Tabanan, Bali, mencerminkan fenomena main hakim sendiri atau vigilantism. Biasanya dengan akar krisis kepercayaan sosial baik kepada pihak berwajib maupun masyarakat sendiri.
Seperti contoh berita skandal polisi, jaksa, dan hakim menggerus kepercayaan publik secara perlahan. Untuk itu penting bagi aparat penegak hukum menjalankan proses hukum secara profesional, bersih, serta bebas korupsi.
Lalu tekanan ekonomi juga memicu kejahatan jalanan “survival crime” yang memaksa pelaku untuk bertahan hidup dengan cara yang salah. Tekanan ekonomi ini pula yang kemudian membuat masyarakat menjadi emosional dan melampiaskan dengan main hakim sendiri.
